Laporan ini menggambarkan pengalaman staf Yayasan Karuna Bali sebagai Kelompok Belajar pertama di Indonesia yang berkesempatan untuk berpartisipasi dalam Pelatihan Fasilitator Jarak Jauh (Distance Fasilitator Training) selama 12 minggu. 12 nilai yang direfleksikan selama proses tersebut adalah Damai, Menghargai, Cinta, Toleransi, Kejujuran, Kerendahan Hati, Kerjasama, Kebahagiaan, Tanggung Jawab, Kebebasan, Kesederhanaan, dan Kesatuan. Setiap minggu, staf mengadakan kelompok belajar untuk merefleksikan salah satu dari nilai-nilai ini secara berurutan. Proses refleksi dipandu oleh seorang fasilitator dan menggunakan panduandari materi refleksi DFT.
Dampak Kegiatan Terhadap Peserta
Berdasarkan umpan balik yang disampaikan peserta setelah mengikuti kegiatan DFT Study Group selama 12 minggu, terlihat jelas bahwa kegiatan ini memberikan dampak yang signifikan dalam kehidupan peserta. Mereka merasakan berbagai dampak positif, terutama dalam refleksi diri dan pemahaman tentang nilai-nilai. Mereka menjadi lebih sadar akan tindakan, perilaku, dan ucapan mereka, serta lebih terhubung dengan nilai-nilai yang mereka yakini penting. Kegiatan ini membantu peserta untuk hadir dan fokus pada keadaan saat ini. Selain itu, peserta juga merasa lebih dekat dengan diri mereka sendiri karena banyak hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan menjadi poin refleksi.

Setiap minggu peserta diberikan satu nilai untuk dieksplorasi, yang membantu mereka lebih mengenal dan menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun ada peserta yang belum merasakan dampak nyata dari kegiatan ini, namun mereka mengatakan ada peningkatan kesadaran dan cara berkomunikasi dengan diri mereka sendiri. Secara keseluruhan kegiatan ini memberi pengingat dan dorongan positif yang membantu peserta menjalani hidup dengan lebih berpedoman pada nilai-nilai yang mereka yakini.
Pengalaman Berkesan
Selama kegiatan ini, peserta merasa paling berkesan ketika mengaitkan nilai-nilai yang direfleksikan setiap minggunya dengan situasi kehidupan nyata mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan, meskipun sederhana, namun memerlukan refleksi mendalam dan menjadi pengingat penting dalam menghadapi tantangan.

Kombinasi antara refleksi pribadi dan kegiatan kelompok menjadi hal yang sangat diapresiasi, karena memberikan dukungan dan semangat melalui kebersamaan. Aktivitas seni dalam kelompok kecil juga dianggap bermakna, meskipun sederhana, tetapi mampu memberikan pengalaman kreatif dan refleksi yang mendalam. Selain itu, kebersamaan dan sesi berbagi menjadi momen yang memberikan wawasan baru serta memperkuat rasa keterhubungan antar peserta.
Tantangan yang Dihadapi
Dari tanggapan peserta terkait tantangan yang dihadapi selama kegiatan DFT, terlihat adanya beberapa tantangan utama, baik dari segi praktis maupun proses refleksi diri. Salah satu tantangan yang sering muncul adalah sulitnya mengaplikasikan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun peserta sudah memahami nilai-nilai tersebut, namun menjaga konsistensi dalam menerapkannya dalam tindakan nyata masih menjadi kendala.
Beberapa peserta juga mengalami kesulitan untuk menghadiri kegiatan DFT secara rutin karena terlibat dalam kegiatan lain. Sebagai solusi, mereka mengerjakan tugas DFT secara mandiri di waktu luang.
Tantangan lainnya adalah kesulitan untuk benar-benar jujur dan berefleksi dengan hati, karena beberapa peserta cenderung mengandalkan logika dan berpikir tentang benar atau salah saat menjawab pertanyaan refleksi, sehingga menghambat proses refleksi yang ideal. Selain itu, keterbatasan waktu untuk melakukan refleksi yang mendalam juga menjadi kendala bagi sebagian peserta. Beberapa peserta juga merasa kesulitan dalam menjawab poin-poin refleksi yang diberikan, terutama karena pertanyaan refleksi yang diberikan terkadang terasa rumit atau sulit dipahami.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, peserta mencoba untuk mengikuti alur kegiatan, mengerjakan refleksi secara mandiri, dan lebih mendengarkan hati daripada terlalu menganalisis secara logis. Mereka juga memanfaatkan bantuan dari peserta lain jika ada hal yang belum dipahami. Selain itu, peserta berusaha mengelola waktu mereka lebih baik dan tetap mengecek serta menghidupkan nilai-nilai yang mereka latih saat ada kesempatan.
Peran Interaksi Kelompok
Secara keseluruhan interaksi kelompok sangat membantu peningkatan pemahaman peserta melalui berbagi pengalaman, ide, dan perspektif yang berbeda. Diskusi memungkinkan peserta melihat nilai dan poin refleksi dari sudut pandang berbeda, yang seringkali membawa wawasan baru. Kolaborasi ide dalam kelompok juga memungkinkan peserta saling berbagi, terutama saat mengahadapi tantangan dalam memahami atau merespon pertanyaan refleksi. Diskusi ini memecah kebigungan dan memberikan contoh nyata yang bisa diterapkan.

Selain itu, aktivitas dalam kelompok menciptakan suasana yang lebih menyenangkan dan mengasyikkan, sehingga membuat peserta antusias untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Kebersamaan dalam kelompok menjadi sumber motivasi dan dukungan. Dalam kegiatan seni dan aktivitas kelompok, interaksi ini membuka ruang untuk berpendapat dan berkolaborasi, memungkinkan ekspresi kreatif yang lebih beragam dan mendalam.
Namun, 1 dari 14 peserta merasa lebih nyaman jika melakukan kegiatan ini secara personal, karena bisa memberikan lebih banyak waktu untuk berefleksi dan memaksimalkan pemahaman tanpa tekanan waktu. Meskipun demikian, mayoritas peserta merasa bahwa interaksi grup dapat membangun koneksi antar peserta, menciptakan suasana di mana mereka dapat saling memahami dan merasa terhubung satu sama lain, baik secara pribadi maupun dalam konteks nilai-nilai yang dieksplorasi.
